Terapi stem cell (sel punca) di bidang ortopedi sering disebut sebagai bagian dari pengobatan regeneratif, karena tujuannya membantu tubuh memperbaiki jaringan yang rusak, seperti tulang rawan sendi, tulang, ligamen, atau tendon. Di Indonesia, terapi ini sedang berkembang, diawasi oleh Kementerian Kesehatan, dan terutama dikaji untuk penyakit degeneratif serta cedera tertentu yang memengaruhi gerak.

Stem cell ortopedi banyak dibahas dalam konteks perbaikan tulang rawan dan jaringan penunjang sendi.
Apa Itu Stem Cell di Bidang Ortopedi?
Secara sederhana, stem cell (sel punca) adalah sel “induk” yang masih punya kemampuan untuk berkembang menjadi berbagai jenis sel lain di dalam tubuh, misalnya sel tulang, tulang rawan, atau jaringan pendukung. Sel punca juga dapat melepaskan berbagai zat kimia dan faktor pertumbuhan yang membantu mengatur peradangan dan proses perbaikan jaringan.
Kementerian Kesehatan RI menjelaskan sel punca sebagai sel induk yang dapat memperbanyak diri dan berpotensi meregenerasi jaringan yang rusak, termasuk pada kasus peradangan sendi lutut (osteoarthritis), di mana tulang rawan menipis dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Di bidang ortopedi, pembahasan paling sering adalah mengenai sel punca mesenkimal (mesenchymal stem cells atau MSC), karena sel ini dapat:
- Berubah menjadi sel tulang, tulang rawan, atau jaringan penunjang lain
- Mengeluarkan zat-zat yang membantu mengatur peradangan dan proses penyembuhan
- Mempengaruhi cara sistem imun bereaksi di area sendi atau tulang yang bermasalah
Istilah yang Anda sering temui di internet atau brosur layanan kesehatan seperti “stem cell untuk sendi lutut”, “stem cell untuk tulang belakang”, juga “stem cell ortopedi” umumnya merujuk pada pemanfaatan MSC ini.

Stem cell ortopedi dapat berasal dari sumsum tulang, jaringan lemak, atau sumber donor lain yang diolah di laboratorium berizin.
Dari Mana Asal Stem Cell yang Digunakan?
Di balik satu istilah “stem cell”, sebenarnya ada beberapa sumber sel yang berbeda. Setiap sumber punya karakteristik, kelebihan, dan batasan masing-masing, termasuk dalam hal cara pengambilan dan pengolahannya. Secara garis besar, di bidang ortopedi sumber stem cell dibagi menjadi dua kelompok besar.
1. Sel Punca Autolog (Dari Tubuh Pasien Sendiri)
Artinya, sel diambil dari tubuh pasien itu sendiri, misalnya:
- Sumsum tulang (bone marrow)
- Jaringan lemak (adipose tissue)
Dalam konteks ortopedi, banyak penelitian dan praktik klinis berfokus pada MSC dari sumsum tulang atau jaringan lemak yang diolah di laboratorium berizin sebelum digunakan kembali pada pasien.
2. Sel Punca Alogenik (Dari Donor)
Dalam beberapa penelitian, MSC juga dapat berasal dari:
- Darah tali pusat (cord blood)
- Jaringan tali pusat (Wharton’s jelly)
- Plasenta
Pemilihan sumber sel, cara pengolahan, serta aturan penggunaannya diatur ketat dalam Permenkes No. 32 Tahun 2018 dan KMK 1359/2024: pedoman khusus ortopedi dan traumatologi dan juga harus mengikuti standar keamanan yang berlaku.

Stem cell tidak hanya berdiferensiasi menjadi sel baru, tetapi juga mengatur peradangan dan lingkungan penyembuhan di sekitar sendi.
Bagaimana Cara Kerja Stem Cell pada Sendi dan Tulang?
Banyak orang membayangkan stem cell seperti “suku cadang” yang langsung mengganti bagian tubuh yang rusak, padahal mekanismenya lebih kompleks dari itu. Di ortopedi, efek stem cell datang dari kombinasi kemampuan sel itu sendiri dan zat-zat yang dikeluarkannya ke lingkungan sekitar. Untuk memudahkan, cara kerja stem cell pada sendi dan tulang bisa dibayangkan dalam tiga peran utama.
1. Mendukung Regenerasi Jaringan
Dalam kondisi tertentu, MSC dapat berdiferensiasi menjadi sel tulang atau tulang rawan.
Tujuannya bukan “mencetak organ baru”, tetapi mendukung proses perbaikan di area yang mengalami kerusakan atau penipisan, misalnya pada tulang rawan lutut yang menipis karena osteoarthritis.
2. Mengatur Peradangan (Efek Imunomodulator)
MSCs juga mengeluarkan berbagai faktor parakrin (zat kimia, sitokin, dan vesikel kecil) yang dapat:
- Menurunkan peradangan berlebihan di sendi
- Memperbaiki lingkungan di sekitar jaringan yang rusak
- Membantu sel-sel lokal bekerja lebih baik dalam proses penyembuhan
Hal ini yang membuat terapi stem cell banyak diteliti untuk nyeri sendi kronis, osteoarthritis, dan cedera jaringan lunak.
3. Mendukung Kualitas Tulang dan Jaringan Penunjang
Pada beberapa studi, pemberian MSC dilaporkan dapat:
- Meningkatkan kepadatan tulang dan kualitas jaringan tulang
- Mendukung proses penyembuhan patah tulang yang sulit menyatu (non-union)
- Membantu perbaikan cedera otot, ligamen, dan tendon tertentu
Namun efek ini tidak selalu sama pada setiap pasien, dan belum menggantikan terapi standar seperti rehabilitasi, obat, atau operasi bila memang sudah diperlukan.

Pada kasus tulang belakang, stem cell masih berada dalam ranah penelitian dan dipertimbangkan secara selektif pada pasien tertentu.
Bagaimana dengan Stem Cell untuk Tulang Belakang (Spine)?
Pada kasus tulang belakang, banyak penelitian yang mulai mengeksplorasi peran terapi regeneratif, termasuk stem cell. Saat ini, posisinya masih selektif dan belum menjadi terapi standar untuk semua pasien nyeri punggung atau gangguan tulang belakang. Di bidang tulang belakang, stem cell terutama sedang diteliti untuk beberapa kondisi, misalnya:
- Degenerasi diskus yang berhubungan dengan nyeri punggung bawah
- Osteonecrosis atau defek tulang tertentu di area tulang belakang
- Sebagai tambahan dalam prosedur fusi tulang belakang (spinal fusion) tertentu untuk mendukung penyatuan tulang
Sejumlah studi fase awal melaporkan bahwa pemberian mesenchymal stem cells di area diskus atau sekitar tulang belakang dapat menurunkan nyeri, memperbaiki fungsi, dan pada sebagian kasus menunjukkan perubahan radiologis ke arah perbaikan struktur. Data ini memberikan sinyal bahwa pendekatan regeneratif berpotensi berperan dalam tata laksana gangguan tulang belakang tertentu, meski masih jauh dari status “terapi standar”.
Karena tulang belakang melibatkan struktur yang kompleks (tulang, diskus, saraf, otot, ligamen), pemilihan terapi pada kasus spine tidak bisa hanya berdasar satu temuan pemeriksaan atau satu jenis prosedur saja. Dokter perlu mempertimbangkan sumber nyeri utama, derajat degenerasi dan stabilitas tulang belakang, kondisi umum pasien, serta terapi konservatif maupun operatif lain yang masih relevan. Pada konteks ini, terapi stem cell dan secretome lebih tepat dipandang sebagai opsi tambahan yang masih dalam tahap pengembangan, bukan pengganti seluruh terapi nyeri punggung yang sudah mapan.

Setiap keputusan terapi stem cell perlu mempertimbangkan risiko, keterbatasan bukti, dan tujuan jangka panjang pasien.
Apa Saja Risiko dan Keterbatasan Terapi Stem Cell Ortopedi?
Setiap terapi medis yang terdengar menjanjikan tetap harus dilihat dari dua sisi: potensi manfaat dan kemungkinan risiko. Terapi stem cell tidak terkecuali, meskipun banyak diberitakan sebagai bagian dari “pengobatan regeneratif”. Berikut beberapa risiko dan keterbatasan yang penting dipahami sebelum seseorang mempertimbangkan terapi stem cell ortopedi.
1. Risiko Prosedural
- Nyeri atau bengkak sementara di tempat suntikan
- Risiko infeksi di area yang ditusuk
- Risiko perdarahan atau memar
2. Risiko Terkait Produk Sel
Dalam konteks terapi sel punca, secara umum risiko yang dibahas antara lain:
- Respon imun yang tidak diinginkan
- Kekhawatiran teoritis terhadap risiko pembentukan tumor dalam konteks tertentu
- Toksisitas atau reaksi hipersensitivitas pada sebagian pasien
Kualitas produk sel, proses manufaktur, dan pengawasan regulasi menjadi faktor sangat penting untuk menurunkan risiko ini.
3. Keterbatasan Bukti Ilmiah
Walaupun banyak studi yang melaporkan perbaikan nyeri dan fungsi, ada juga studi yang menunjukkan:
- Hasil yang bervariasi antar pasien
- Perbedaan efek berdasarkan sumber sel, dosis, dan cara pemberian
- Data jangka panjang (misalnya 10–20 tahun) yang masih terbatas
Artinya, terapi ini menjanjikan, tetapi belum bisa dianggap sebagai “obat ajaib” untuk semua masalah sendi dan tulang.

Penelitian stem cell ortopedi mencakup osteoarthritis lutut, kerusakan tulang rawan, defek tulang, dan beberapa kasus tulang belakang.
Untuk Kondisi Apa Saja Stem Cell Ortopedi Sedang Diteliti?
Stem cell tidak digunakan untuk semua penyakit tulang dan sendi, melainkan pada kelompok kondisi tertentu yang memang sedang banyak diteliti. Informasi ini penting supaya harapan pasien tetap realistis dan tidak melebar ke semua jenis nyeri. Di pedoman Kementerian Kesehatan dan berbagai publikasi ilmiah, stem cell ortopedi terutama sedang dikaji pada beberapa kondisi berikut:
- Osteoarthritis (OA) – terutama OA lutut
- Kerusakan tulang rawan (chondral / osteochondral defects)
- Cedera ligamen dan tendon, termasuk ligamen lutut (misalnya ACL)
- Patah tulang yang sulit menyatu (non-union) atau defek tulang besar
- Osteonecrosis (matinya jaringan tulang di area tertentu)
- Degenerasi diskus tulang belakang dan beberapa kasus nyeri punggung bawah yang berkaitan dengan tulang belakang
Beberapa rumah sakit dan pusat layanan kesehatan di Indonesia juga menulis edukasi publik tentang peran stem cell pada osteoarthritis, gangguan mobilitas sendi, dan regenerasi tulang rawan, sehingga masyarakat memiliki gambaran lebih konkret mengenai target terapi yang sedang dikaji.
Hasil Penelitian dan Studi Klinis Terbaru Stem Cell Ortopedi
Setelah memahami konsep dan mekanismenya, pertanyaan berikutnya biasanya adalah: “bagaimana dengan buktinya di penelitian?”. Jawaban ini tidak bisa hanya berdasarkan satu studi, tetapi perlu dilihat dari kumpulan uji klinis yang sudah dilakukan. Berikut 4 contoh studi yang membahas stem cell ortopedi, dengan penjelasan yang diringkas agar lebih mudah dipahami.
- McIntyre dkk., 2018 (systematic review MSC intra-artikular)
Puluhan studi klinis injeksi mesenchymal stem cells ke dalam sendi, terutama pada osteoarthritis, umumnya menunjukkan perbaikan nyeri dan fungsi dengan profil keamanan yang cukup baik. Namun, desain studi sangat beragam sehingga belum ada kesimpulan pasti tentang dosis dan protokol terbaik. - Malige dkk., 2024 (systematic review “true MSC” dalam ortopedi)
Mengulas penggunaan MSC yang memenuhi kriteria ISCT pada berbagai masalah ortopedi seperti osteoarthritis lutut, kerusakan tulang rawan, osteonekrosis, defek tulang, dan fusi tulang belakang. Hasilnya mendukung peran MSC sebagai terapi simptomatik dan/atau tambahan, tetapi belum cukup kuat untuk dijadikan terapi tunggal yang menggantikan terapi standar. - Rahyussalim AJ dkk., 2024 (laporan kasus PLDD + secretome UC-MSC pada cedera medula spinalis)
Melaporkan satu pasien dengan cedera medula spinalis yang menjalani PLDD dan secretome mesenchymal stem cell dari tali pusat (umbilical cord-derived MSC), dengan perbaikan nyeri, fungsi motorik, dan indikator kualitas tulang dalam follow up hingga satu tahun. Hasil ini menarik sebagai sinyal awal potensi terapi regeneratif pada tulang belakang, tetapi karena baru laporan satu kasus, belum bisa digeneralisasi dan masih memerlukan konfirmasi melalui uji klinis terkontrol. - Holiuk dkk., 2025 (uji klinis fase I MSC plasenta untuk osteoarthritis lutut)
Menilai kombinasi injeksi MSC plasenta dan hyaluronic acid pada osteoarthritis lutut. Studi ini melaporkan perbaikan nyeri dan fungsi dengan efek samping lokal yang umumnya ringan dan sementara, tetapi jumlah pasien kecil dan desain non-randomized sehingga masih diperlukan uji klinis lanjutan yang lebih besar dan terkontrol.

Diskusi langsung dengan dokter ortopedi membantu menentukan apakah terapi stem cell memang relevan dengan kondisi sendi atau tulang yang dialami pasien.
Kapan Sebaiknya Berkonsultasi Soal Stem Cell dengan Dokter Ortopedi?
Tidak semua orang dengan nyeri sendi atau nyeri punggung otomatis membutuhkan terapi stem cell. Namun, pada sebagian pasien, diskusi tentang terapi regeneratif bisa menjadi bagian penting dari perencanaan jangka panjang. Anda bisa mempertimbangkan untuk berdiskusi dengan dokter ortopedi mengenai stem cell bila:
- Mengalami nyeri sendi atau tulang kronis yang sudah menjalani pengobatan standar (obat, fisioterapi, modifikasi aktivitas) tetapi hasilnya belum optimal
- Ingin memahami opsi terapi regeneratif yang sedang berkembang, termasuk kelebihan dan keterbatasannya dibandingkan terapi lain
- Ingin tahu apakah kondisi Anda termasuk yang sedang diteliti atau berpotensi dipertimbangkan untuk terapi stem cell
Saat konsultasi, beberapa pertanyaan yang bisa Anda ajukan:
- Apakah kondisi saya memang termasuk yang sedang dikaji untuk terapi stem cell?
- Terapi standar apa saja yang masih bisa dilakukan tanpa stem cell?
- Apa tujuan realistis dari terapi ini untuk saya (misalnya nyeri berkurang, fungsi membaik, menunda operasi)?
- Apa saja risiko prosedurnya, dan bagaimana rencana pemantauan setelah tindakan?
Membahas regulasi Kemenkes, peran BPOM, contoh kasus praktik ilegal, dan checklist sederhana untuk menilai apakah layanan stem cell yang Anda temui sudah berada dalam koridor resmi. Baca ulasan artikel “Terapi Stem Cell Orthopaedi di Indonesia: Legalitas, Risiko, dan Cara Memilih Layanan yang Aman”
Ringkasnya
- Stem cell ortopedi terutama merujuk pada pemanfaatan mesenchymal stem cells (MSC) untuk membantu memperbaiki jaringan sendi dan tulang yang rusak.
- Di Indonesia, terapi ini sudah mulai diterapkan dalam kerangka penelitian dan layanan terbatas, dengan pengawasan regulasi dari Kementerian Kesehatan.
- Hasil penelitian, mulai dari review besar hingga uji klinis fase awal, menunjukkan profil keamanan yang cukup baik dan potensi perbaikan nyeri dan fungsi pada kelompok pasien tertentu, terutama osteoarthritis lutut – tetapi bukan jaminan sembuh untuk semua orang.
- Keputusan menggunakan atau tidak menggunakan terapi stem cell selalu harus bersifat individual, mempertimbangkan kondisi klinis, terapi standar yang tersedia, risiko, biaya, dan preferensi pasien.
Pada akhirnya, memahami stem cell ortopedi bukan soal mengikuti tren, tetapi soal mengetahui di mana posisi terapi ini secara ilmiah dan bagaimana ia bisa melengkapi, bukan menggantikan, terapi yang sudah terbukti. Jika Anda sedang mempertimbangkan terapi stem cell untuk sendi, tulang, atau tulang belakang, langkah paling aman adalah berkonsultasi langsung dengan dokter spesialis ortopedi yang memahami kondisi Anda secara menyeluruh, sehingga keputusan yang diambil benar-benar sejalan dengan kebutuhan klinis dan tujuan hidup Anda sehari-hari.