Terapi stem cell untuk tulang dan sendi sekarang sering muncul di iklan, seminar kesehatan, sampai grup WhatsApp keluarga. Banyak pasien bertanya, “Ini sebenarnya legal tidak di Indonesia? Aman tidak? Dokternya benar-benar diawasi atau hanya jualan paket?”
Jawabannya tidak sesederhana “ya” atau “tidak”. Di satu sisi, terapi sel punca memang sudah punya payung hukum dan pedoman resmi dari Kementerian Kesehatan. Di sisi lain, masih banyak praktik yang berada di luar koridor regulasi, termasuk kasus sekretom ilegal di Magelang yang ditindak BPOM dan Bareskrim.
Artikel ini akan membantu Anda memahami legalitas, risiko, dan cara memilih layanan terapi stem cell orthopaedi yang lebih aman di Indonesia, dengan bahasa awam dan berbasis regulasi resmi. Bukan promosi paket, melainkan panduan agar Anda bisa berdiskusi lebih kritis dengan dokter.
Kalau Anda belum sempat membaca gambaran umum tentang apa itu terapi stem cell orthopaedi, bagaimana cara kerjanya, dan apa saja keterbatasannya, kami sudah membahasnya di artikel pendamping: “Terapi Stem Cell Orthopaedi: Apa Itu, Manfaat, dan Batasannya?”

Banyak pasien mengenal terapi stem cell dari iklan dan testimoni, bukan dari pedoman atau data ilmiah.
1. Mengapa Legalitas dan Keamanan Terapi Stem Cell Orthopaedi Penting Dibahas?
1.1. Lonjakan minat pasien tulang dan sendi terhadap terapi sel punca
Pasien dengan masalah tulang dan sendi, seperti:
- Osteoarthritis (pengapuran lutut, pinggul, sendi kecil)
- Cedera ligamen (misalnya ACL)
- Nyeri punggung kronis
semakin sering mendengar istilah “stem cell” dan “secretome” sebagai “pengobatan masa depan”. Di seminar awam dan media, kadang terapi ini digambarkan seolah mampu mengatasi berbagai penyakit sekaligus, dari sendi sampai anti-aging.
Pertanyaannya, seberapa jauh klaim itu sesuai dengan regulasi dan bukti ilmiah?
1.2. Risiko jika pasien hanya mengikuti iklan dan testimoni
Perhimpunan Dokter Seminat Rekayasa Jaringan dan Terapi Sel Indonesia (REJASELINDO), organisasi resmi di bawah IDI, sampai mengangkat tema “Beyond Stem Cell: Where Are We?” dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan 2024. Tema ini sengaja dipilih karena banyak klaim terapi stem cell yang sudah melampaui data ilmiah yang ada.
Artinya:
- Cerita “X sembuh setelah stem cell” belum tentu mewakili bukti ilmiah populasi.
- Testimoni bukan pengganti uji klinis dan pedoman klinis.
Tanpa pemahaman regulasi, pasien bisa masuk ke layanan yang belum jelas status hukumnya, atau bahkan ilegal.

Permenkes 32/2018 dan KMK 1359/2024 menjadi fondasi hukum terapi sel punca orthopaedi di Indonesia.
2. Sekilas: Apa Itu Terapi Sel Punca Orthopaedi dan Bagaimana Status Ilmiahnya?
2.1. Perbedaan terapi standar vs terapi regeneratif
Dalam orthopaedi, terapi standar biasanya mencakup:
- Obat nyeri dan anti-inflamasi
- Fisioterapi dan latihan otot
- Injeksi kortikosteroid / asam hialuronat
- Bracing, alat bantu jalan
- Operasi (misalnya fiksasi tulang, rekonstruksi ligamen, penggantian sendi)
Sementara terapi sel punca (stem cell) dan turunannya (misalnya secretome) termasuk ke dalam terapi regeneratif:
- Menggunakan sel atau produk turunan sel untuk membantu perbaikan jaringan (tulang, tulang rawan, tendon, ligamen, dll).
- Di Indonesia, definisi sel punca dan penyelenggaraannya diatur dalam Permenkes No. 32 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Sel Punca dan/atau Sel.
2.2. Posisi terapi sel punca dalam kedokteran orthopaedi saat ini
Secara regulasi dan ilmiah, terapi sel punca bukan “obat sakti serba bisa”, melainkan:
- Inovasi yang masih banyak berada di ranah penelitian berbasis pelayanan, bukan terapi rutin massal.
- Pada bidang orthopaedi, penggunaan sel punca paling banyak dieksplorasi untuk: osteoarthritis, defek tulang, fraktur non-union, cedera ligamen dan tendon, dan beberapa indikasi khusus lain.
Jadi wajar kalau Anda mendengar ada pasien yang sudah menerima terapi ini, tetapi bukan berarti semua pasien tulang dan sendi otomatis perlu atau cocok untuk sel punca.
3. Kerangka Regulasi Terapi Stem Cell di Indonesia
3.1. Permenkes 32/2018: payung besar pelayanan sel punca dan/atau sel
Permenkes No. 32 Tahun 2018 mengatur penyelenggaraan pelayanan sel punca dan/atau sel di Indonesia. Salah satu poin penting adalah pemisahan penggunaan sel punca menjadi:
- Pelayanan terapi terstandar – sudah cukup bukti keamanan dan manfaatnya.
- Penelitian berbasis pelayanan terapi – terapi masih dievaluasi melalui penelitian di layanan nyata, dengan pengawasan ketat.
Artinya, ketika Anda ditawari terapi sel punca, penting untuk tahu:
“Ini termasuk terapi terstandar atau penelitian berbasis pelayanan?”
3.2. KMK 1359/2024: pedoman khusus orthopaedi dan traumatologi
Pada 2024, Kemenkes menerbitkan Keputusan Menteri Kesehatan No. HK.01.07/MENKES/1359/2024 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Terapi Sel Punca di Bidang Orthopaedi dan Traumatologi.
Pedoman ini:
- Menetapkan standar terapi sel punca autologus maupun alogenik dan turunannya (termasuk sekretom) untuk berbagai kasus orthopaedi, seperti:
- Lesi osteokondral dan osteoarthritis
- Defek tulang kritis dan fraktur non-union
- Cedera medula spinalis dan degenerasi diskus
- Cedera ligamen dan tendon, termasuk ACL
- Menegaskan bahwa terapi sel punca hanya boleh dilakukan di:
- Rumah sakit dan klinik utama yang memenuhi syarat,
- Dengan dokter orthopaedi yang memiliki kompetensi sesuai,
- Menggunakan produk sel punca/secretome dari laboratorium berizin atau produk yang sudah memiliki izin edar.
3.3. Konsep “penelitian berbasis pelayanan” dan implikasinya bagi pasien
Kemenkes dan berbagai sumber resmi menjelaskan bahwa pengobatan regeneratif dan terapi sel di Indonesia saat ini masih banyak berada di ranah riset berbasis layanan, belum ada industri lokal yang memproduksi massal dan mengedarkan produk terapi sel punca sebagai obat jadi seperti tablet atau injeksi rutin.
Bagi pasien, konsekuensinya:
- Anda mungkin masuk sebagai subjek penelitian dengan protokol jelas dan persetujuan etik.
- Harus ada informed consent yang rinci: menjelaskan status terapi (masih dalam penelitian), risiko, dan ketidakpastian hasil.

Terapi sel punca orthopaedi hanya boleh dilakukan di rumah sakit dan klinik utama yang ditetapkan Kemenkes.
4. Di Fasilitas Kesehatan Mana Terapi Sel Punca Orthopaedi Boleh Dilakukan?
4.1. Rumah sakit penelitian dan pusat layanan yang ditetapkan pemerintah
Pedoman Kemenkes menegaskan bahwa pelayanan terapi sel punca orthopaedi hanya dapat dilakukan di:
- Rumah sakit, dan
- Klinik utama
yang ditetapkan dan memenuhi syarat standar sarana, SDM, dan tata kelola.
Publikasi resmi Kemenkes juga menyebut bahwa penggunaan sel punca saat ini masih terbatas pada riset berbasis layanan terapi, belum tersedia secara luas seperti obat biasa di semua fasyankes.
Contohnya, berita edukasi dari salah satu RS swasta besar menyatakan secara terbuka bahwa terapi sel punca masih berada di bawah pengawasan ketat pemerintah dan hanya boleh dilaksanakan di fasilitas yang ditetapkan sebagai pusat layanan penelitian klinis.
4.2. Peran klinik utama dalam pelayanan sel punca lokal/topikal
Permenkes 32/2018 membuka ruang untuk klinik utama menyelenggarakan beberapa bentuk terapi sel punca, terutama yang bersifat lokal/topikal, selama:
- Mengikuti pedoman Kemenkes,
- Menggunakan produk dari laboratorium berizin atau produk berizin edar,
- Memiliki dokter dengan kompetensi sesuai dan tata kelola mutu yang jelas.
Jika ada klinik kecil yang menawarkan “stem cell untuk segala penyakit” tanpa dapat menunjukkan dasar regulasinya, ini patut dicurigai.

Kemenkes, BPOM, dan organisasi profesi berkolaborasi mengawal keamanan dan mutu terapi sel punca di Indonesia.
5. Peran Kemenkes, BPOM, dan Organisasi Profesi dalam Mengawasi Terapi Stem Cell
5.1. Kemenkes dan Komite di bawahnya
Kementerian Kesehatan, melalui berbagai direktorat termasuk Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, berperan:
- Menetapkan pedoman (Permenkes 32/2018, KMK 1359/2024, dll),
- Menunjuk fasilitas penyelenggara terapi sel punca,
- Melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan layanan ini.
5.2. BPOM: pengawasan produk dan penertiban sekretom ilegal
BPOM mengawasi mutu dan keamanan produk biologis, termasuk:
- Sel punca yang diproduksi sebagai sediaan farmasi,
- Produk turunan seperti secretome.
Pada 2025, BPOM menerbitkan regulasi baru tentang penilaian terapi gen dan sel, menegaskan semakin ketatnya pengawasan terhadap produk terapi regeneratif.
Di sisi lain, BPOM juga mengungkap kasus sekretom ilegal di Magelang: produk turunan sel punca senilai sekitar Rp 230 miliar yang diedarkan lewat klinik dokter hewan, diklaim bisa mencegah kanker, meningkatkan stamina, awet muda, dan mengobati berbagai penyakit sulit.
5.3. REJASELINDO, PABOI, dan IOMBS: menjembatani riset dan praktik klinis
- REJASELINDO (Perhimpunan Dokter Seminat Rekayasa Jaringan dan Terapi Sel Indonesia) sebagai organisasi di bawah IDI mengadakan PIT 2024 dengan tema “Beyond Stem Cell: Where Are We?” untuk mengkritisi hype dan mendorong penerapan terapi yang berbasis riset dan etika.
- PABOI melalui buletin Ortho d’Magz edisi khusus stem cell, dan
- IOMBS melalui kongres “Bridging Biology and Orthopaedics: The Stem Cell Frontier” juga menekankan bahwa terapi sel punca di orthopaedi harus berjalan dalam koridor pedoman Kemenkes dan standar ilmiah, bukan sekadar komoditas komersial.

Kasus sekretom ilegal di Magelang menjadi peringatan bahwa produk biologi tanpa izin bisa membahayakan pasien.
6. Mengenal Praktik Stem Cell dan Secretome Ilegal: Pelajaran dari Kasus Magelang
6.1. Apa yang terjadi pada kasus Magelang?
Pada Agustus 2025, BPOM bersama Bareskrim mengungkap praktik ilegal di sebuah klinik dokter hewan di Magelang yang mengedarkan produk sekretom (turunan sel punca) tanpa izin dengan nilai sekitar Rp 230 miliar.
Produk ini dipromosikan seolah-olah mampu:
- Mencegah kanker,
- Meningkatkan stamina,
- Membuat awet muda,
- Mengobati berbagai penyakit sulit.
Padahal tidak ada izin edar dan tidak mengikuti jalur penilaian keamanan dan mutu yang seharusnya.
6.2. Mengapa praktik di luar kerangka regulasi berbahaya?
Dalam rilis BPOM disebutkan bahwa sekretom ilegal adalah “ancaman baru dalam dunia kesehatan” karena:
- Proses produksinya tidak diawasi,
- Risiko kontaminasi dan reaksi merugikan tidak tertangani,
- Klaim manfaat yang terlalu luas mendorong pasien menghentikan terapi standar yang sudah terbukti.
Ini contoh nyata bahwa “teknologi canggih” tidak selalu aman bila lepas dari regulasi.
6.3. Pelajaran bagi pasien
Dari kasus ini, ada beberapa pelajaran penting:
- Jangan mudah percaya pada klaim “bisa mengatasi semua penyakit”.
- Selalu tanyakan izin edar BPOM untuk produk yang disuntikkan atau diinfuskan.
- Untuk terapi orthopaedi, pastikan layanan berada di RS/klinik utama berizin dan mengikuti KMK 1359/2024, bukan di fasilitas yang tidak jelas.

Pasien sebaiknya memastikan legalitas fasilitas, izin produk, dan proses informed consent sebelum menjalani terapi sel punca.
7. Ciri Layanan Terapi Stem Cell Orthopaedi yang Resmi dan Relatif Aman
7.1. Fasilitas dan layanan jelas terikat pada regulasi Kemenkes
Beberapa ciri yang bisa Anda cek:
- Dilakukan di rumah sakit atau klinik utama yang memang menyebutkan mengikuti Permenkes 32/2018 dan KMK 1359/2024.
- Ada dokter spesialis orthopaedi dengan kompetensi yang relevan (misalnya rekonstruksi lutut, sports injury, dll).
- Pasien dijelaskan bahwa terapi sel punca orthopaedi di Indonesia sebagian masih dalam kerangka riset berbasis layanan, bukan terapi bebas di semua fasilitas.
7.2. Sumber produk sel punca dan izin BPOM transparan
Hal yang patut ditanyakan:
- Produk sel punca/secretome berasal dari laboratorium pengolah yang berizin atau produk yang sudah punya izin edar sesuai pedoman.
- Dokter atau fasilitas bisa menjelaskan nama produk, asal, dan status perizinan (bukan hanya menyebut “aman kok, sudah dipakai banyak orang”).
BPOM sendiri mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap tawaran terapi biologi atau stem cell yang tidak jelas asal produknya, terutama yang dikemas sebagai paket estetika atau anti-aging.
7.3. Proses informed consent dan follow-up terstruktur
Pelayanan yang baik biasanya:
- Memberikan penjelasan tertulis tentang:
- Diagnosis Anda,
- Tujuan dan mekanisme terapi sel punca,
- Risiko dan efek samping,
- Status terapi (terstandar vs penelitian berbasis pelayanan).
- Menjelaskan rencana pemantauan jangka panjang: kunjungan kontrol, pemeriksaan penunjang bila perlu, dan apa yang dilakukan jika terjadi efek samping.
Bila semua tampak serba tergesa-gesa dan minim dokumen, Anda berhak berhati-hati.
8. Red Flag: Tanda-Tanda Layanan Stem Cell yang Perlu Diwaspadai
Beberapa “lampu merah” yang sebaiknya membuat Anda ekstra waspada:
8.1. Klaim “pasti sembuh” dan testimoni bombastis
- Janji “pasti sembuh, pasti muda, pasti tidak perlu operasi” bertentangan dengan semangat pedoman dan literatur ilmiah, yang justru menekankan bahwa efektivitas terapi sel punca masih terus dievaluasi.
- Materi promosi hanya diisi testimoni individu tanpa satu pun rujukan jurnal, pedoman, atau bahkan penjelasan regulasi.
8.2. Paket “stem cell” atau “secretome” untuk semua penyakit dan anti-aging
- Penawaran paket “sel punca/secretome untuk penyakit apapun dan anti-aging” tanpa menyebut indikasi yang jelas dan tanpa penjelasan izin produk merupakan pola yang juga muncul dalam kasus-kasus yang ditindak BPOM.
8.3. Tidak ada penjelasan tertulis tentang risiko dan status penelitian
- Anda tidak diberi informed consent tertulis, tidak dijelaskan apakah terapi masih dalam kerangka penelitian berbasis layanan, dan tidak ada penjelasan rinci mengenai biaya total dan rencana bila terapi gagal.
- Ini bertentangan dengan prinsip yang ditekankan dalam Permenkes 32/2018, KMK 1359/2024, dan berbagai kajian bioetika di Indonesia yang menyoroti pentingnya perlindungan pasien dalam terapi sel punca.

Membawa daftar pertanyaan membantu Anda memahami status terapi, regulasi, biaya, dan rencana jangka panjang tulang dan sendi.
9. Checklist Pertanyaan untuk Dibawa Saat Konsultasi dengan Dokter Orthopaedi
Saat bertemu dokter orthopaedi dan membicarakan terapi sel punca, Anda bisa membawa beberapa pertanyaan ini:
9.1. Tentang diagnosis dan terapi non-stem cell
- “Diagnosis pasti saya apa, dan derajat kerusakan sendinya seperti apa?”
- “Apa saja terapi standar yang masih bisa dicoba sebelum atau bersama terapi sel punca?”
Ini penting agar terapi sel punca tidak melompati langkah-langkah yang seharusnya.
9.2. Tentang regulasi, izin, dan dasar penelitian
- “Apakah terapi ini termasuk pelayanan terstandar atau penelitian berbasis pelayanan sesuai Permenkes 32/2018?”
- “Apakah rumah sakit/klinik ini terdaftar sebagai penyelenggara terapi sel punca orthopaedi sesuai KMK 1359/2024?”
- “Produk sel/secretome yang digunakan berasal dari mana, dan apa status perizinan BPOM-nya?”
9.3. Tentang biaya, kontrol, dan rencana jika terapi tidak berhasil
- “Berapa kisaran biaya total yang harus saya siapkan, termasuk kontrol dan pemeriksaan lanjutan?”
- “Berapa lama saya akan dipantau setelah tindakan, dan apa indikator bahwa terapi dinilai berhasil?”
- “Kalau keluhan saya tidak membaik, atau membaik sebentar lalu memburuk, apa rencana terapi selanjutnya?”
Dengan pertanyaan seperti ini, Anda dan dokter bisa duduk sebagai mitra dalam mengambil keputusan, bukan sekadar pasien yang “membeli paket”.
Jika keluhan utama Anda adalah nyeri atau pengapuran lutut, pembahasan lebih fokus mengenai lutut, termasuk kapan terapi stem cell dipertimbangkan dan terapi lain apa yang masih bisa dioptimalkan, ada di artikel: “Terapi Stem Cell untuk Lutut: Seberapa Aman dan Efektif Menurut Riset?”.
10. Ringkasan: Bersikap Bijak terhadap Terapi Stem Cell Orthopaedi
Beberapa hal penting untuk diingat:
- Di Indonesia, terapi sel punca dan turunannya sudah punya kerangka regulasi yang jelas melalui Permenkes 32/2018 dan KMK 1359/2024, tetapi penerapannya masih banyak dalam bentuk penelitian berbasis layanan, bukan terapi rutin di semua fasilitas.
- Pemerintah (Kemenkes dan BPOM) serta organisasi profesi (REJASELINDO, PABOI, IOMBS) mendorong agar terapi ini berkembang secara bertanggung jawab, berbasis bukti dan etika, bukan hanya mengikuti hype.
- Kasus sekretom ilegal di Magelang menunjukkan bahwa produk dan praktik di luar koridor regulasi bisa sangat berbahaya, meskipun dibungkus dengan klaim teknologi maju dan anti-aging.
- Bagi pasien dengan masalah tulang dan sendi, fokus utama tetap pada:
- Diagnosis yang tepat,
- Terapi standar yang maksimal,
- Dan bila mempertimbangkan terapi sel punca, pastikan dilakukan di fasilitas berizin, menggunakan produk dengan izin yang jelas, dan melalui proses informed consent yang transparan.
Jika Anda sedang mempertimbangkan terapi stem cell untuk keluhan orthopaedi, langkah paling aman adalah:
- Konsultasi dengan dokter spesialis orthopaedi yang memahami regulasi dan bukti terkini.
- Minta penjelasan tertulis tentang status terapi, izin produk, risiko, dan biaya.
- Jangan ragu mencari second opinion bila ada hal yang terasa janggal atau terlalu bagus untuk jadi kenyataan.