Terapi stem cell untuk nyeri punggung belakangan ini sering muncul di iklan dan media sosial. Banyak pasien bertanya, apakah nyeri punggung apa pun bisa disuntik stem cell dan kemudian membaik tanpa operasi. Kenyataannya, tidak semua nyeri punggung berasal dari masalah yang sama, dan tidak semua kondisi cocok ditangani dengan stem cell.
Ringkasan Singkat: Apakah Semua Nyeri Punggung Bisa Ditangani Stem Cell?
| Aspek | Penjelasan Singkat |
| Peran utama stem cell | Sedang diteliti untuk nyeri punggung bawah kronis tertentu, terutama yang berhubungan dengan kerusakan bantalan (degenerasi diskus) |
| Status bukti ilmiah | Ada studi yang menunjukkan perbaikan pada sebagian pasien, tetapi hasilnya belum konsisten dan kualitas bukti masih terbatas |
| Terapi standar nyeri punggung | Tetap bertumpu pada edukasi, obat, fisioterapi, latihan, dan pada kondisi tertentu tindakan operasi, bukan langsung stem cell |
| Kondisi yang tidak cocok | Nyeri otot akut, nyeri karena postur dan kurang gerak, infeksi, tumor, fraktur, atau keadaan darurat saraf tidak ditangani dengan stem cell |
| Posisi klinis saat ini | Stem cell lebih dekat ke terapi tambahan yang masih dikembangkan, bukan solusi utama untuk semua jenis nyeri punggung |
Setelah memahami ringkasan di atas, penting untuk melihat lebih dekat jenis nyeri punggung yang sering disalahpahami. Banyak keluhan yang sebenarnya bisa membaik dengan terapi sederhana, tetapi justru dihubungkan dengan terapi canggih seperti stem cell, padahal belum tentu perlu dan belum tentu tepat.
Kenapa Jawabannya Bukan “Ya untuk Semua Kasus”?

Nyeri punggung hanyalah gejala; penyebabnya bisa berasal dari otot, postur, bantalan, tulang, saraf, hingga organ lain sehingga penanganannya tidak bisa diseragamkan.
Nyeri punggung hanyalah gejala, bukan nama penyakit. Dua orang dengan keluhan yang sama bisa memiliki penyebab yang sangat berbeda. Satu orang mungkin mengalami nyeri otot karena terlalu lama duduk, sementara orang lain mengalami HNP dengan saraf terjepit. Ada juga nyeri punggung yang berasal dari infeksi, tulang yang rapuh, atau bahkan penyakit di organ lain seperti ginjal.
Terapi stem cell yang saat ini diteliti terutama menyasar masalah bantalan di antara tulang belakang yang mengalami kerusakan dan diduga menjadi sumber nyeri. Tidak ada bukti kuat bahwa stem cell dapat menjadi terapi utama untuk semua bentuk nyeri punggung, apalagi kondisi darurat. Pedoman penatalaksanaan nyeri punggung tetap menempatkan edukasi, obat, fisioterapi, dan latihan sebagai dasar terapi, disertai operasi pada situasi tertentu yang membutuhkan tindakan dekompresi atau stabilisasi.
Dengan kata lain, sebelum berbicara tentang stem cell, langkah pertama yang jauh lebih penting adalah memastikan dulu diagnosis yang tepat: struktur mana yang sebenarnya bermasalah dan seberapa berat kondisinya.
Apa yang Sebenarnya Dikerjakan Stem Cell pada Tulang Belakang?

Terapi stem cell pada tulang belakang terutama diteliti untuk membantu mengurangi peradangan dan mendukung perbaikan bantalan yang mengalami degenerasi.
Terapi stem cell atau sel punca pada tulang belakang terutama diteliti untuk nyeri punggung bawah kronis yang diduga berasal dari bantalan yang mengalami degenerasi. Dalam beberapa studi, sel punca diambil dari sumsum tulang atau jaringan lemak pasien, diproses di fasilitas khusus, lalu disuntikkan ke dalam bantalan yang rusak. Harapannya, sel ini membantu mengurangi peradangan dan mendukung perbaikan jaringan sehingga nyeri berkurang.
Sejumlah uji klinis melaporkan bahwa sebagian pasien dengan nyeri punggung bawah kronis mengalami perbaikan nyeri dan fungsi setelah mendapat suntikan stem cell ke bantalan yang degeneratif. Namun ketika hasil-hasil ini dianalisis secara lebih luas, para peneliti menilai bahwa kualitas bukti masih terbatas dan belum cukup kuat untuk menjadikan terapi ini sebagai standar klinis bagi semua pasien. Terapi ini masih ditempatkan sebagai pendekatan yang menjanjikan, tetapi perlu dibuktikan lebih lanjut dengan penelitian yang lebih besar dan metode yang lebih ketat.
Di sisi lain, sebagian besar nyeri punggung yang datang ke fasilitas kesehatan bukanlah nyeri akibat degenerasi bantalan yang berat. Banyak yang berupa nyeri otot, nyeri karena postur, atau nyeri mekanik ringan yang cenderung membaik dengan waktu, obat sederhana, dan tetap aktif bergerak. Pada kelompok besar inilah sering terjadi salah paham, seolah semua nyeri punggung dapat dan sebaiknya ditangani dengan stem cell.
Tujuh Kondisi Nyeri Punggung yang Sering Disalahpahami

Nyeri otot, nyeri karena postur, fraktur osteoporosis, infeksi, tumor, dan nyeri rujukan organ lain tidak ditangani dengan terapi stem cell.
1. Nyeri Punggung Akut Karena Otot Tertarik atau Salah Gerak
Banyak orang mengalami nyeri punggung mendadak setelah mengangkat beban berat, salah posisi saat membungkuk, atau terlalu lama duduk. Nyeri seperti ini biasanya berasal dari otot dan jaringan lunak di sekitar tulang belakang yang menegang atau mengalami peregangan berlebihan. Keluhan bisa cukup mengganggu, tetapi pada sebagian besar kasus, nyeri akan membaik dalam beberapa hari sampai beberapa minggu dengan istirahat relatif, kompres, obat nyeri sesuai anjuran, dan menjaga tubuh tetap aktif.
Pada kondisi ini, terapi stem cell tidak diperlukan. Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa suntik stem cell pada fase awal akan membuat nyeri otot sederhana ini sembuh lebih cepat dibandingkan perawatan konservatif biasa. Fokus utama justru pada edukasi postur, cara mengangkat beban yang benar, penguatan otot inti, dan pengaturan aktivitas agar kekambuhan berkurang di kemudian hari.
2. Nyeri Punggung Karena Postur dan Kurang Gerak
Sebagian besar nyeri punggung pada usia produktif berhubungan dengan gaya hidup. Terlalu sering duduk lama, jarang bergerak, jarang berolahraga, dan posisi kerja yang kurang ergonomis dapat memicu nyeri punggung yang berulang. Nyeri biasanya terasa tumpul, muncul perlahan, dan sering membaik ketika tubuh digerakkan, diregangkan, atau setelah rutin berolahraga.
Pada jenis nyeri ini, penelitian justru menunjukkan bahwa tetap aktif, melakukan latihan teratur, dan memperbaiki postur memberikan manfaat besar. Terapi seperti fisioterapi, latihan penguatan, dan penyesuaian tempat kerja sering kali sudah cukup membantu. Terapi stem cell tidak ditujukan untuk mengatasi masalah kebiasaan dan postur seperti ini. Mengandalkan suntikan tanpa mengubah gaya hidup hanya akan membuat nyeri mudah kambuh kembali.
3. HNP dengan Gejala Saraf Serius yang Memerlukan Tindakan Segera
HNP atau hernia nukleus pulposus adalah kondisi ketika bagian dalam bantalan menonjol keluar dan dapat menekan saraf. Pada sebagian kasus, keluhan terbatas pada nyeri menjalar dan kesemutan. Namun pada kasus lain, muncul gejala serius seperti kelemahan otot pada tungkai, gangguan berjalan, atau gangguan buang air besar dan kecil. Kondisi seperti ini bisa mengarah pada sindrom cauda equina yang merupakan keadaan darurat.
Pada HNP dengan gejala saraf yang berat, terapi utama sesuai pedoman saat ini adalah obat, fisioterapi, injeksi selektif, dan bila perlu operasi dekompresi untuk melepaskan jepitan saraf. Menunda tindakan yang jelas dibutuhkan demi mencoba terapi stem cell justru berisiko memperburuk kerusakan saraf yang bisa bersifat permanen. Sampai sekarang belum ada bukti kuat bahwa stem cell dapat menggantikan operasi pada situasi darurat seperti ini.
4. Nyeri Punggung Karena Tulang Rapuh dan Fraktur Osteoporosis
Pada usia lanjut, terutama pada perempuan setelah menopause atau orang dengan osteoporosis berat, tulang belakang dapat menjadi sangat rapuh. Kadang tulang punggung mengalami fraktur kompresi, sehingga punggung terasa sangat nyeri dan tinggi badan tampak berkurang. Nyeri ini bersumber dari tulang yang patah, bukan dari bantalan yang rusak.
Penanganan nyeri punggung akibat fraktur kompresi osteoporosis meliputi obat nyeri, penyangga tulang belakang, fisioterapi, dan terapi untuk menguatkan tulang, seperti obat antiosteoporosis. Pada sebagian kasus tertentu dapat dipertimbangkan tindakan seperti vertebroplasti atau kifoplasti. Terapi stem cell yang disuntikkan ke bantalan tidak ditujukan untuk memperbaiki tulang yang sudah patah, sehingga tidak menjadi pilihan utama pada kondisi ini.
5. Nyeri Punggung Karena Kelainan Bentuk Tulang Belakang
Kelainan bentuk tulang belakang seperti skoliosis berat, kifosis, atau kelainan bawaan lain dapat menyebabkan nyeri punggung karena pembebanan yang tidak seimbang. Pada pasien seperti ini, masalah utamanya adalah struktur dan bentuk tulang, bukan hanya bantalan yang menipis. Penatalaksanaan biasanya meliputi observasi, latihan, penyangga, atau pada derajat tertentu operasi koreksi untuk memperbaiki kelengkungan.
Mengandalkan terapi stem cell pada kondisi kelainan bentuk yang jelas sering kali tidak tepat, karena tidak ada bukti bahwa suntikan sel punca dapat mengoreksi kelengkungan tulang belakang yang sudah berat. Pendekatan yang digunakan tetap mengikuti pedoman penanganan skoliosis dan kelainan bentuk lainnya, dengan mempertimbangkan usia, derajat kelengkungan, dan keluhan pasien.
6. Nyeri Punggung Akibat Infeksi atau Tumor Tulang Belakang
Infeksi tulang belakang, misalnya spondilitis tuberkulosis, dan tumor tulang belakang atau metastasis dari kanker lain, juga dapat menimbulkan nyeri punggung yang berat. Nyeri sering terasa terus-menerus, dapat memburuk di malam hari, dan kadang disertai penurunan berat badan, demam, atau kelemahan. Kondisi seperti ini memerlukan pemeriksaan menyeluruh dengan pencitraan dan tes laboratorium untuk mencari penyebab pastinya.
Penanganan infeksi dan tumor bertumpu pada obat-obatan khusus, misalnya obat tuberkulosis jangka panjang, kemoterapi, radioterapi, atau operasi untuk mengambil massa dan menstabilkan tulang. Terapi stem cell sama sekali tidak menggantikan kebutuhan penanganan utama tersebut. Bahkan, pemberian produk biologis tanpa pengawasan pada kondisi infeksi atau tumor dapat berisiko memperburuk keadaan. Karena itu, pada nyeri punggung dengan kecurigaan infeksi atau tumor, fokus utama adalah memastikan diagnosis dan memberikan terapi yang sesuai dengan penyakit dasarnya.
7. Nyeri Punggung yang Ternyata Berasal dari Organ Lain
Tidak semua nyeri di area punggung berasal dari tulang atau bantalan. Beberapa penyakit di organ lain dapat memunculkan nyeri yang terasa di punggung, misalnya batu ginjal, infeksi ginjal, pankreatitis, atau kelainan pembuluh darah besar di perut. Nyeri seperti ini biasanya memiliki pola yang sedikit berbeda dan sering disertai gejala lain, seperti demam, mual, nyeri perut, atau gangguan buang air kecil.
Pada kasus seperti ini, terapi tulang belakang termasuk stem cell tidak akan mengatasi sumber masalahnya. Yang diperlukan adalah penatalaksanaan penyakit di organ yang terlibat, misalnya menangani batu ginjal atau peradangan pankreas. Karena itu, sangat penting bagi dokter untuk mewaspadai kemungkinan nyeri rujukan dari organ lain ketika mengevaluasi keluhan nyeri punggung, terutama bila gejalanya tidak khas.
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih menyeluruh tentang kapan terapi stem cell tulang belakang masuk akal, kapan belum tepat, serta apa kata hasil penelitian sejauh ini, Anda dapat merujuk ke artikel “Stem Cell untuk Nyeri Punggung & ‘Saraf Kejepit’: Kapan Masuk Akal, Kapan Tidak, dan Apa Kata Riset?”.
Lalu, Nyeri Punggung Seperti Apa yang Kadang Dipertimbangkan untuk Stem Cell?

Terapi stem cell umumnya baru dipertimbangkan pada nyeri punggung bawah kronis akibat degenerasi bantalan yang jelas dan tidak membaik dengan terapi konservatif.
Berdasarkan penelitian yang ada, terapi stem cell untuk tulang belakang terutama dipertimbangkan pada pasien dengan nyeri punggung bawah kronis yang sudah berlangsung lama, di mana bantalan yang mengalami degenerasi diduga menjadi sumber nyeri utama. Pasien seperti ini umumnya sudah menjalani berbagai bentuk terapi konservatif yang memadai, termasuk obat, fisioterapi, latihan, dan modifikasi aktivitas, tetapi nyeri tetap mengganggu aktivitas sehari-hari.
Dalam uji klinis, sebagian pasien dengan nyeri punggung akibat degenerasi bantalan yang jelas di pencitraan mengalami perbaikan nyeri dan fungsi setelah mendapat suntikan stem cell ke dalam bantalan yang bermasalah. Meski demikian, analisis gabungan dari berbagai studi menunjukkan bahwa kualitas bukti masih bervariasi dan hasilnya belum konsisten. Beberapa pedoman klinis menempatkan terapi regeneratif seperti stem cell sebagai pilihan yang masih bersifat eksperimental, dan menganjurkan agar prosedur ini hanya dilakukan di pusat pelayanan yang berpengalaman, dengan protokol yang jelas, serta pemantauan jangka panjang yang baik.
Situasi ini menjelaskan mengapa terapi stem cell tidak diberikan secara rutin kepada semua pasien nyeri punggung, tetapi dipertimbangkan secara selektif untuk kelompok tertentu, setelah dokter dan pasien mendiskusikan secara terbuka manfaat potensial, risiko, biaya, dan alternatif lain yang tersedia.
Cara Bijak Menyikapi Tawaran Stem Cell untuk Nyeri Punggung

Pasien dianjurkan memilih fasilitas berizin, mengikuti regulasi resmi, dan berhati-hati terhadap klaim kesembuhan instan terapi stem cell untuk nyeri punggung.
Dengan semakin seringnya iklan dan promosi tentang terapi stem cell, pasien perlu semakin kritis. Langkah pertama yang penting adalah memastikan bahwa fasilitas yang menawarkan terapi sel punca memang memiliki izin resmi dan mengikuti pedoman dari Kementerian Kesehatan dan BPOM. Peraturan di Indonesia menegaskan bahwa pelayanan sel punca hanya boleh diselenggarakan di fasilitas yang memenuhi syarat, dengan mutu produk dan proses yang diawasi, dan tidak dipasarkan sebagai komoditas bebas tanpa landasan ilmiah.
Selain itu, pasien perlu meminta penjelasan yang lengkap dan mudah dipahami mengenai tujuan terapi, peluang keberhasilan, risiko yang mungkin terjadi, dan pilihan terapi lain yang masih tersedia. Bila suatu layanan menjanjikan kesembuhan total untuk semua jenis nyeri punggung hanya dengan satu kali suntikan tanpa menyebutkan keterbatasan bukti, hal ini patut dicurigai. Konsultasi dengan dokter spesialis ortopedi atau dokter bedah tulang belakang yang tidak terikat langsung dengan penyedia layanan dapat membantu memberikan pandangan kedua yang lebih objektif.
Nyeri Punggung Bukan Selalu Soal Stem Cell
Nyeri punggung adalah keluhan yang sangat umum dan memiliki banyak sekali penyebab. Terapi stem cell memang menarik dan memberikan harapan bagi sebagian kecil pasien dengan nyeri punggung bawah kronis akibat kerusakan bantalan yang jelas. Namun, untuk sebagian besar nyeri punggung lain, pendekatan yang lebih sederhana seperti edukasi, perbaikan gaya hidup, obat, dan fisioterapi justru menjadi kunci utama pemulihan.
Bila Anda merasakan nyeri punggung yang mengganggu, langkah terbaik adalah memeriksakan diri ke dokter, bukan langsung mencari suntikan stem cell. Melalui pemeriksaan menyeluruh, dokter dapat menjelaskan penyebab yang paling mungkin, merencanakan terapi yang sesuai, dan membantu Anda menilai apakah terapi canggih seperti stem cell memang relevan atau justru belum diperlukan. Dengan cara ini, harapan tetap terjaga, tetapi keputusan yang diambil tetap realistis dan aman bagi kesehatan jangka panjang.