Select Page

Stem Cell untuk Nyeri Punggung & “Saraf Kejepit”: Kapan Masuk Akal, Kapan Tidak, dan Apa Kata Riset?

Ringkasan Cepat

Pelajari fakta medis tentang stem cell untuk nyeri punggung dan saraf kejepit, siapa kandidat yang tepat, risikonya, dan apa kata riset terbaru.

  1. Terapi stem cell tulang belakang terutama diteliti untuk nyeri punggung bawah kronis akibat degenerasi diskus, bukan untuk semua jenis "saraf kejepit".
  2. Sejumlah penelitian menunjukkan perbaikan nyeri dan fungsi pada sebagian pasien, tetapi hasilnya belum konsisten dan masih berskala terbatas.
  3. Regulasi di Indonesia mewajibkan terapi sel punca dilakukan di fasilitas berizin, dengan pengawasan ketat dan bukan sekadar layanan komersial bebas.
  4. Terapi ini tidak menggantikan terapi konservatif (obat, fisioterapi, modifikasi aktivitas) dan tidak selalu bisa menggantikan kebutuhan operasi tulang belakang.
  5. Risiko tetap ada, mulai dari infeksi, nyeri memburuk, sampai kemungkinan efek jangka panjang yang belum sepenuhnya dipahami.
  6. Kandidat pasien stem cell tulang belakang harus dipilih sangat selektif, berdasarkan diagnosis jelas dan diskusi mendalam dengan dokter.
Dokter ortopedi menjelaskan terapi stem cell untuk nyeri punggung bawah dan saraf kejepit.
Terapi stem cell tulang belakang terutama diteliti untuk nyeri punggung bawah kronis dengan degenerasi diskus terpilih.

Artikel ini ditujukan untuk edukasi umum. Informasi berikut tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter ataupun penilaian gawat darurat.

Nyeri punggung bawah dan keluhan “saraf kejepit” sangat sering dialami banyak orang. Di saat yang sama, terapi stem cell atau sel punca mulai sering dibicarakan sebagai harapan baru. Wajar kalau muncul pertanyaan: apakah suntik stem cell untuk nyeri punggung benar-benar membantu, aman, dan sudah terbukti, atau masih sebatas harapan yang perlu disikapi hati-hati?

Artikel ini mencoba menjelaskan dengan bahasa sederhana: kapan terapi stem cell tulang belakang mungkin bermanfaat, kapan justru belum tepat, dan apa yang sudah diketahui dari penelitian sejauh ini.

Ringkasan Singkat Terapi Stem Cell untuk Nyeri Punggung

Aspek Penjelasan Singkat
Target utama terapi Degenerasi diskus (degenerative disc disease) dan nyeri punggung bawah kronis tertentu akibat kerusakan bantalan tulang belakang
Status bukti ilmiah Hasil riset awal menjanjikan, tetapi masih terbatas dan belum menunjukkan manfaat yang konsisten dibanding terapi standar pada semua pasien
Regulasi di Indonesia Terapi sel punca hanya boleh dilakukan di fasilitas yang berizin, dalam kerangka riset/layanan khusus sesuai regulasi Kementerian Kesehatan dan BPOM
Keamanan Secara umum relatif aman pada studi terkontrol, tetapi tetap ada risiko infeksi, nyeri bertambah, hingga efek jangka panjang yang belum sepenuhnya diketahui
Siapa kandidat potensial Pasien dengan nyeri punggung bawah kronis terkait degenerasi diskus, yang sudah menjalani terapi konservatif optimal dan dipilih ketat oleh dokter spesialis
Kapan tidak dianjurkan Nyeri akut, kondisi darurat (kelemahan kaki berat, gangguan BAB/BAK), infeksi, tumor, atau bila sumber nyeri bukan terutama dari diskus

Setelah memahami gambaran singkat di atas, penting untuk diingat bahwa terapi stem cell untuk nyeri punggung belum menjadi terapi standar. Keputusan terapi harus selalu melalui pemeriksaan menyeluruh, penegakan diagnosis yang tepat, dan diskusi terbuka mengenai manfaat serta risiko bersama dokter spesialis ortopedi atau bedah tulang belakang.

Memahami Nyeri Punggung, HNP, dan “Saraf Kejepit”

Ilustrasi perbandingan diskus normal dan HNP yang menekan saraf di tulang belakang lumbal.

HNP atau hernia nukleus pulposus dapat menekan saraf dan menimbulkan nyeri menjalar yang dikenal sebagai sciatica.

Saat seseorang berkata “nyeri punggung” atau “saraf kejepit”, sumber masalahnya bisa berbeda-beda. Secara sederhana, nyeri punggung bawah dapat berasal dari otot dan ligamen yang tegang atau cedera, sendi kecil di tulang belakang, bantalan di antara tulang belakang (diskus) yang mulai rusak, ataupun saraf yang tertekan. Perbedaan sumber nyeri ini penting, karena tidak semua nyeri punggung cocok ditangani dengan cara yang sama.

Bantalan di antara tulang belakang (diskus) bisa diibaratkan sebagai peredam kejut. Seiring usia dan beban, bantalan ini dapat menipis, mengering, atau retak. Proses yang disebut degenerasi diskus atau degenerative disc disease ini, pada sebagian orang, menjadi salah satu penyebab nyeri punggung bawah yang menetap lebih dari tiga bulan. Keluhan biasanya berupa nyeri tumpul di punggung bawah, kadang disertai kaku dan mudah kambuh saat duduk atau membungkuk terlalu lama.

HNP (hernia nukleus pulposus) terjadi ketika bagian dalam bantalan yang lebih lunak menonjol keluar melalui bagian luar yang robek. Dalam bahasa awam kondisi ini sering disebut “bantalan geser”. Bila tonjolan ini menekan saraf, timbul keluhan yang dikenal sebagai “saraf kejepit” atau sciatica, yaitu nyeri menjalar dari punggung bawah ke bokong, paha, sampai tungkai, kadang disertai kesemutan atau rasa lemah.

Untuk kasus HNP dengan saraf terjepit berat, penanganan utama sampai saat ini masih berupa kombinasi obat, fisioterapi, injeksi tertentu, dan bila perlu operasi dekompresi. Terapi stem cell pada kondisi seperti ini belum menjadi pilihan utama. Karena itu, sebelum membahas stem cell, dokter perlu memastikan dulu apakah sumber nyeri Anda lebih dominan dari otot, sendi, bantalan (diskus), atau saraf yang betul-betul terjepit, karena hal ini sangat memengaruhi pilihan terapi.

Apa Itu Terapi Stem Cell untuk Tulang Belakang?

Ilustrasi konseptual sel punca di sekitar diskus tulang belakang lumbal.

Terapi stem cell tulang belakang bertujuan mengurangi peradangan dan membantu perbaikan jaringan diskus yang degeneratif.

Stem cell atau sel punca adalah sel “awal” yang masih bisa berkembang menjadi berbagai jenis sel lain. Dalam ortopedi dan tulang belakang, stem cell yang paling sering dibahas adalah mesenchymal stem cell (MSC), biasanya berasal dari sumsum tulang atau jaringan lemak.

Pada tulang belakang, konsep terapinya kurang lebih seperti ini:

  • Sel punca diproses di fasilitas khusus dengan standar ketat.
  • Sel tersebut kemudian disuntikkan ke dalam atau sekitar bantalan (diskus) yang sudah mengalami kerusakan.

Harapannya, sel punca ini dapat membantu mengurangi peradangan, mendukung perbaikan jaringan, dan pada sebagian pasien mengurangi nyeri punggung bawah yang sudah lama.

Penting diingat: terapi stem cell bukan obat ajaib yang bisa “mengganti” bantalan rusak menjadi benar-benar baru, dan bukan juga jalan pintas untuk menghindari semua terapi lain.

Apa Kata Riset tentang Stem Cell untuk Nyeri Punggung?

Tim peneliti menganalisis data klinis terapi stem cell untuk nyeri punggung.

Sejumlah uji klinis menunjukkan hasil menjanjikan, namun bukti manfaat stem cell untuk nyeri punggung masih terbatas dan belum konsisten.

Penelitian tentang stem cell untuk nyeri punggung terutama fokus pada pasien dengan nyeri punggung bawah kronis, di mana sumber nyeri diduga kuat berasal dari bantalan yang sudah mengalami kerusakan atau degenerasi. Beberapa uji klinis dan studi kecil menunjukkan bahwa sebagian pasien merasakan penurunan nyeri dan perbaikan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari setelah mendapat suntikan stem cell ke dalam bantalan yang bermasalah. Pada sisi lain, ketika hasil tersebut dibandingkan dengan kelompok kontrol, misalnya kelompok yang mendapat suntikan plasebo atau terapi lain, perbedaannya tidak selalu konsisten di semua penelitian.

Tinjauan sistematis yang menggabungkan berbagai penelitian menyimpulkan bahwa terapi stem cell tampak menjanjikan sebagai salah satu pilihan untuk sebagian kasus nyeri punggung bawah akibat degenerasi diskus, tetapi bukti yang ada masih terbatas. Dengan kata lain, terapi ini belum bisa dijadikan terapi standar untuk semua pasien, dan masih dipandang sebagai opsi tambahan yang sedang dikembangkan di pusat-pusat tertentu, bukan pengganti fisioterapi, obat, atau operasi yang sudah terbukti efektif.

Regulasi dan Keamanan Terapi Stem Cell di Indonesia

Di Indonesia, pemanfaatan sel punca diatur secara ketat oleh Kementerian Kesehatan dan BPOM. Terapi stem cell tidak boleh dilakukan di sembarang klinik, melainkan hanya di rumah sakit atau pusat layanan yang sudah ditunjuk dan berizin. Proses pengambilan, pengolahan, hingga penyuntikan sel harus mengikuti pedoman resmi, termasuk standar keamanan, mutu, dan pemantauan pasien setelah tindakan.

Lembaga pengawas di Indonesia dan luar negeri juga mengingatkan adanya praktik klinik yang menjual terapi stem cell secara agresif tanpa dasar ilmiah yang cukup. Pada situasi seperti itu, risiko infeksi dan efek samping serius bisa meningkat karena prosedur dan produk yang digunakan tidak jelas standarnya. Bagi pasien, langkah aman yang dapat dilakukan adalah selalu memeriksa izin fasyankes, memastikan ada dokter penanggung jawab yang kompeten, dan meminta penjelasan yang jujur tentang manfaat, risiko, dan alternatif terapi sebelum menyetujui tindakan.

Kapan Terapi Stem Cell Mungkin Masuk Akal untuk Nyeri Punggung?

Pasien berdiskusi dengan dokter ortopedi mengenai pilihan terapi nyeri punggung termasuk stem cell.

Kandidat pasien stem cell tulang belakang dipilih secara ketat berdasarkan diagnosis dan respons terhadap terapi konservatif.

Secara umum, terapi stem cell tulang belakang baru dipertimbangkan pada pasien dengan nyeri punggung bawah kronis yang sudah berlangsung lebih dari tiga bulan dan diduga kuat berasal dari bantalan yang rusak atau mengalami degenerasi. Pasien seperti ini biasanya sudah menjalani berbagai upaya terapi konservatif, seperti obat, fisioterapi, latihan penguatan otot, dan penyesuaian aktivitas, tetapi keluhan tetap mengganggu kualitas hidup. Pemeriksaan penunjang, misalnya MRI, juga umumnya menunjukkan gambaran degenerasi diskus yang sesuai dengan keluhan pasien, tanpa disertai tanda bahaya seperti kelemahan kaki berat, gangguan BAB/BAK, demam, kecurigaan infeksi, atau tumor.

Pada kelompok yang sangat terpilih seperti ini, di rumah sakit yang berizin dan memiliki fasilitas terapi sel punca, dokter dapat mendiskusikan kemungkinan terapi stem cell sebagai bagian dari pendekatan menyeluruh, bukan sebagai satu-satunya solusi. Sejak awal, pasien perlu memahami bahwa hasilnya tidak seragam pada semua orang dan terapi ini masih dalam tahap pengembangan, sehingga tidak bisa disamakan dengan terapi yang sudah menjadi standar.

Jika Anda masih bertanya-tanya apakah jenis nyeri punggung yang Anda rasakan termasuk yang mungkin dipertimbangkan untuk terapi stem cell atau tidak, Anda dapat membaca artikel Apakah Semua Nyeri Punggung Bisa Ditangani Stem Cell? Ini 7 Kondisi yang Sering Disalahpahami.

Kapan Terapi Stem Cell Tidak Dianjurkan?

Pada banyak situasi, terapi stem cell justru tidak dianjurkan untuk nyeri punggung. Misalnya pada nyeri punggung yang baru berlangsung beberapa hari atau minggu, peluang untuk membaik dengan obat sederhana, fisioterapi, dan pengaturan aktivitas masih sangat besar sehingga belum diperlukan tindakan invasif. Kondisi darurat, seperti cauda equina syndrome dengan nyeri hebat disertai gangguan BAB/BAK dan baal di area selangkangan, kelemahan kedua tungkai yang berat, atau adanya infeksi dan tumor tulang belakang, juga bukan ranah terapi stem cell dan memerlukan penanganan tersendiri, termasuk kemungkinan operasi.

Terapi ini juga tidak tepat bagi pasien yang berharap semua masalah bisa selesai tanpa komitmen menjalani fisioterapi, latihan, dan perubahan gaya hidup. Begitu pula bila tawaran terapi datang dari fasilitas yang tidak jelas izinnya, menjanjikan kesembuhan total untuk semua jenis nyeri punggung hanya dengan satu kali suntik, dan tidak memberikan penjelasan tertulis mengenai risiko dan alternatif. Pada kondisi-kondisi seperti ini, mengejar terapi stem cell justru berisiko menunda penanganan yang seharusnya dan memperburuk fungsi saraf.

Tips Bijak Sebelum Memutuskan Terapi Stem Cell untuk Punggung

tips-memilih-terapi-stem-cell-punggung

Sebelum menjalani terapi stem cell, pastikan diagnosis jelas, fasilitas berizin, dan semua risiko telah dijelaskan oleh dokter.

Sebelum memutuskan menjalani terapi stem cell untuk nyeri punggung, ada beberapa hal yang sebaiknya dipikirkan dengan tenang. Pertama, pastikan diagnosis yang Anda terima jelas, termasuk penjelasan dari dokter mengenai apa sumber utama nyeri Anda, apakah lebih dominan dari otot, sendi, bantalan, atau saraf. Kedua, tinjau kembali apakah terapi yang sudah dijalani, seperti obat, fisioterapi, dan latihan, telah dilakukan dengan cara dan durasi yang cukup. Ketiga, pastikan bahwa terapi stem cell ditawarkan oleh rumah sakit atau pusat layanan yang berizin, memiliki fasilitas yang memadai, dan tim dokter yang berpengalaman di bidang tulang belakang dan terapi sel punca.

Selain itu, mintalah penjelasan tertulis mengenai manfaat yang diharapkan, risiko yang mungkin terjadi, kemungkinan kegagalan terapi, besarnya biaya, dan pilihan terapi lain yang tersedia. Sikap waspada juga penting ketika berhadapan dengan klaim yang terdengar terlalu menjanjikan, misalnya janji sembuh total dari semua jenis nyeri punggung hanya dengan satu kali suntikan. Dengan bersikap kritis dan berdialog terbuka dengan dokter, Anda dapat mengambil keputusan terapi yang lebih aman dan sesuai dengan kondisi tubuh Anda.

 Menjaga Harapan Tetap Realistis dan Tubuh Tetap Terjaga

Terapi stem cell untuk nyeri punggung dan “saraf kejepit” memang menarik dan memberikan harapan, terutama bagi mereka yang sudah lama hidup dengan nyeri. Namun, sampai saat ini, terapi ini masih dalam tahap pengembangan dan hanya cocok untuk kelompok pasien tertentu.

Hal terpenting adalah tidak terburu-buru mengambil keputusan hanya karena melihat iklan atau testimoni. Dengarkan sinyal tubuh Anda, dan jangan menunda pemeriksaan bila nyeri semakin berat atau muncul gejala seperti kesemutan, lemah, atau gangguan BAB/BAK.

Jika Anda ragu atau ingin tahu apakah terapi stem cell relevan untuk kondisi Anda, langkah terbaik adalah berkonsultasi langsung dengan dokter spesialis ortopedi atau dokter bedah tulang belakang. Melalui pemeriksaan menyeluruh dan rencana terapi yang terarah, dokter akan membantu mencari pilihan yang paling aman dan sesuai, dengan tujuan akhir mengembalikan kualitas hidup dan kenyamanan gerak Anda.

 

Referensi

  1. [1] Ferraz VR, Goulart CR, dkk. Stem cell therapy for degenerative disc disease: A systematic review of preclinical evidence, clinical translation, and future directions. North American Spine Society Journal (NASSJ). Artikel ini meninjau bukti praklinis dan klinis terapi stem cell untuk degenerasi diskus, termasuk data nyeri dan fungsi pada pasien dengan nyeri punggung bawah kronis. Lihat sumber
  2. [2] Randy R, Yosua K, Guntara A, Hardiansyah NP. Stem Cells Therapy as a Treatment for Discogenic Low Back Pain: A Systematic Review. International Journal of Spine Surgery. Tinjauan sistematis ini membahas berbagai studi terapi stem cell intradiskal untuk nyeri punggung bawah discogenic dan menyimpulkan bahwa terapi ini menjanjikan namun masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Lihat sumber
  3. [3] Vadalà G, dkk. Intradiscal Mesenchymal Stromal Cell Therapy for the Treatment of Low Back Pain Due to Moderate-to-Advanced Multilevel Disc Degeneration (DREAM Study). Uji klinis fase IIB acak ini melaporkan bahwa injeksi intradiskal stem cell autologous tampak aman dan mungkin terkait perbaikan struktural ringan pada pasien dengan nyeri punggung bawah kronis akibat degenerasi diskus multilevel. Lihat sumber
  4. [4] Soufi K, dkk. Potential role for stem cell regenerative therapy as a treatment for degenerative disc disease and low back pain: A systematic review. International Journal of Molecular Sciences. Artikel ini meninjau peran potensial terapi regeneratif berbasis stem cell pada degenerasi diskus dan menyoroti keterbatasan bukti serta tantangan translasi ke praktik klinis. Lihat sumber
  5. [5] United States Food and Drug Administration (FDA). Important Patient and Consumer Information About Regenerative Medicine Therapies. FDA menegaskan bahwa banyak produk terapi regeneratif termasuk stem cell belum disetujui untuk pengobatan kondisi ortopedi seperti nyeri punggung dan degenerasi diskus, serta memperingatkan risiko terapi yang dipasarkan tanpa bukti memadai. Lihat sumber
  6. [6] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Sel Punca (Stem Cell). Halaman edukasi resmi yang menjelaskan definisi sel punca, potensi manfaatnya pada penyakit degeneratif, serta penekanan bahwa pelayanan terapi sel punca di Indonesia masih dalam pengembangan dan harus mengikuti regulasi yang berlaku. Lihat sumber
  7. [7] Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor HK.01.07/MENKES/1359/2024. Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Terapi Sel Punca di Bidang Orthopaedi dan Traumatologi. Dokumen ini menjadi acuan standar bagi rumah sakit dan klinik utama dalam menyelenggarakan pelayanan terapi sel punca ortopedi secara aman dan efektif di Indonesia. Lihat sumber
  8. [8] Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI. Berbagai siaran pers dan publikasi tentang penguatan regulasi terapi sel punca dan penyerahan sertifikat CPOB kepada fasilitas pengembangan terapi sel punca, yang menegaskan pengawasan ketat mutu, keamanan, dan khasiat produk terapi sel punca di Indonesia. Lihat sumber
  9. [9] Siloam Hospitals. Jenis-Jenis Stem Cell dalam Penanganan Ortopedi. Artikel edukasi rumah sakit yang menjelaskan berbagai jenis stem cell yang digunakan dalam bidang ortopedi, indikasi klinisnya, serta penekanan bahwa terapi sel punca di Indonesia harus mengikuti Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Terapi Sel Punca di Bidang Orthopaedi dan Traumatologi yang ditetapkan Kementerian Kesehatan. Lihat sumber
  10. [10] Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI). RSUI Hadirkan Layanan Stem Cell Orthopaedi Kolaborasi Bersama RSCM. Siaran resmi RSUI yang menjelaskan pembukaan layanan stem cell orthopaedi sebagai bagian dari terapi regeneratif bagi pasien dengan gangguan tulang dan sendi, yang diselenggarakan melalui kolaborasi dengan RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo sesuai regulasi yang berlaku. Lihat sumber
Pertanyaan yang sering ditanyakan
  1. Tidak. Terapi stem cell lebih banyak diteliti untuk nyeri punggung bawah kronis yang diduga berasal dari bantalan yang rusak (degenerasi diskus). Nyeri punggung karena otot tegang, sendi, atau kelainan postur memerlukan pendekatan lain.

Bagikan artikel ini

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.